Minggu, 07 Maret 2010

Angka Lempengan Total metode Plate Count

TUJUAN: Mengetahui jumlah bakteri yang ada dalam sampel

Prinsip: Pertumbuhan bakteri mesofil aerob setelah contoh diinkubasikan dalam perbenihan yang cocok selama 24-48 jam pada suhu 35±1˚C

TEORI DASAR

Penyebaran mikroorganisme yang tumbuh pada bahan hasil pertanian pada hasil olahnya pada umumya terdiri dari bakteri, jamur/kapang, virus dan disamping itu terdapat juga binatang satu sel. Pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme dalam bahan ( makanan ), akan menyebabkan perubahan-perubahan tertentu yaitu : perubahan yang bersifat fisik dan dan kimiawi, sebagai contoh yaitu: konsistensi bahan menjadi lunak, timbul gas atau aroma tertentu dan zat racun yang membahayakan. Jumlah penyebaran bakteri/mikroorganisme pada bahan (makanan ) yang sedang mengalami pembusukan sangat bervariasi jumlahnya dan tidak sama jenis ( species )-nya serta tergantung pada: varietas, habitat, susunan kimia, cara penanganan, suhu penyimpanan, dan lain-lain.

Pertumbuhan mikroorganisme yang membentuk koloni dapat dianggap bahwa setiap koloni yang tumbuh berasal dari satu sel, maka dengan menghitung jumlah koloni dapat diketahui penyebaran bakteri yang ada pada bahan. Jumlah mikroba pada suatu bahan dapat dihitung dengan berbagai macam cara, tergantung pada bahan dan jenis mikrobanya. Ada 2 macam cara perhitungan jumlah mikroba/bakteri, yaitu perhitungan secara langsung dan tidak langsung.

1. Perhitungan jumlah mikroba secara langsung

Jumlah mikroba dihitung secara keseluruhan, baik yang mati atau yang hidup. Berbagai cara perhitungan mikroba secara langsung menggunakan:

a. Counting chamber

b. Cara pengecatan dan pengamatan mikroskopik

c. Filter membrane

2. Perhitungan jumlah miroba secara tidak langsung

Jumlah mikroba dihitung secara keseluruhan baik yang mati atau yang hidup atau hanya untuk menentukan jumlah mikroba yang hidup saja, ini tergantung cara-cara yang digunakan. Untuk menentukan jumlah miroba yang hidup dapat dilakukan setelah larutan bahan atau biakan mikroba diencerkan dengan factor pengenceran tertentu dan ditumbuhkan dalam media dengan cara-cara tertentu tergantung dari macam dan sifat-sifat mikroba. Perhitungan jumlah mikroba secara tidak langsung ini dapat dilakukan dengan:

a. Menggunakan pemusing

b. Berdasarkan atas kekeruhannya

c. Menggunakan penghitung elektronik

d. Berdasarkan analisa kimia

e. Berdasarkan bobot kering

f. Menggunakan cara pengenceran

g. Menggunakan cara jumlah mikroba yang paling mungkin Most (Probable Number=MPN)


ALAT dan BAHAN

Alat : Cawan petri Mikropipet + tip Hot plate Incubator

Mikroskop Erlenmeyer

Tabung reaksi + rak Lampu spirtus

Tissue Kapas

Autoclave Pipet volum 25 ml

Vortex Autoclav

Toples

Bahan: Sampel (susu)

Media NA (Natrium Agar)

Aquadest

alcohol 70%

LANGKAH KERJA

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2. Menyemprot meja kerja dan tangan praktikan dengan alcohol 70%

3. Membungkus cawan petri, tabung reaksi, pipet volum dan tip dengan kertas Koran,(tabung reaksi masing-masing diisi 9 ml aquadest dan lubang tabung reaksi ditutup dengan kapas)

4. Mengisi toples dengan225 ml aquadest dan menutup rapat

5. Membuat media NA (Natrium Agar)

6. Mensterilisasi semua alat yang telah dibungkus kertas koran, media dan aquadest dalam toples pada autoclave selama 15 menit pada suhu 121˚C

7. Mendinginkan alat dan bahan yang telah disterilisasi

8. Melakukan pengeceran, sampel dimasukan ke dalam toples yang berisi 225 ml aquadest yang telah steril (10ˉ2) dilakukan secara aseptis, mengocok 25 kali

9. Melakukan pengenceran berikutnya yaitu memipet 1 ml dari toples (10ˉ2) dimasukan ke tabung reaksi pengenceran 10ˉ3, memvortex tabung lalu memipet 1 ml dimasukan ke tabung pengenceran 10ˉ4 dan 1 ml lagidi masukan ke cawan petri dilakukan secra aseptis

10. Melakukan pengenceran berikutnya hingga pengenceran 10ˉ

11. Cawan petri yang telah terisi digoyang-goyangkan

12. Menuangkan media ke masing-masing cawan, membalikan posisi cawan

13. Memasukan cawan petri ke dalam incubator dengan posisi terbalik pada suhu 35±1˚C selama 24-48 jam

14. Mencatat pertumbuhan koloni pada masing-masing cawan yang mengandung 25-250 koloni dan melihat bentuknya dengan mikroskop

DATA HASIL PENGAMATAN

Pengenceran Hasil

10ˉ3 : 0

10ˉ4 : 14

10ˉ5 :7

10ˉ6 : 0

Blanko : -



PERHITUNGAN

4 x 10ˉ3 = 0,4 x 10ˉ4

7 x 10ˉ4

= 0,4 . 10ˉ4 + 7 . 10ˉ4 = 7,4 x 10ˉ4

2 2

= 3,7 x 10ˉ4 koloni/gram

PEMBAHASAN

Praktikum yang dilakukan adalah untuk mengetahui pada sampel. Angka lempengan total yaitu jumlah bakteri mesofil aerob yang hidup pada sampel. Bakteri mesofil aerob adalah golongan bakteri yang tumbuh baik pada suhu 25-40˚C dalam suasana mengandung asam.Pada praktikum ini sebelumnya alat disterilisasi terlebih dahulu pada autoclave selama 15 menit pada suhu 121˚C agar semua alat dan bahan yang akan digunakan steril/tidak ada mikroorganisme penganggu sehingga tidak akan mempengaruhi hasil akhir. Sterilisasi adalah suatu proses untuk mematikan semua organism yang terdapat pada atau di dalam suatu benda.


Sampel yang akan diuji adalah air keran dan bakso, praktikum dilakukan dua kali dan praktikum pertama adalah mengetahui Angka Lempengan Total pada air keran sedangkan pada praktikum kedua adalah air keran dan bakso. Sebelum semua kegiatan dilakukan, terlebih dahulu meja kerja dan tangan praktikan disemprot dengan alkohol 70% karena untuk menghindari terkontaminasi dengan mikroba lain yang ada disekitar. Media yang digunakan adalah PCA (Plate Count Agar) karena mempunyai susunan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan substrat bakteri mesofil aerob yang akan dianalisa. Yang terkandung dalam PCA (Plate Count Agar) adalah:

· Yeast: 2,5 gram

· Pancreatic digest of Caseine: 5 gram

· Glucose: 1 gram

· Agar: 15-20 gram

· Air suling: 1 liter


Semua bahan dilarutkan pada pH 7,0 yaitu netral karena bakteri dapat tumuh baik pada suasana netral. Media dipanaskan agar semua bahan homogen, pemanasan dibantu dengan magnetic sterrer untuk meratakan pemanasan.


Pada praktikum pertama yaitu sampel air keran dipipet 25 ml dan dimasukan ke dalam toples yang berisi 225 ml aquadest steril, proses ini dilakukan didekat api agar aseptis. Kemudian dikocok 25 kali tujuannya agar homogen, dan dilakukan pengenceran yaitu dipipet 1 ml dengan menggunakan mikropipet yang dilengkapi tip yang telah disterilkan dan dimasukan ke dalam tabung reaksi 10ˉ3 yang berisi 9 ml aquadest yang telah steril. Untuk memasang tip pada mikropipet adalah dengan menekan ujung mikropipet dan memasukan lubang yang ada diujung mikropipet pada tip, proses ini juga dilakukan didekat api agar aseptis. Pemasangan tip untuk mikropipet tidak dilakukan dengan tangan karena dikhawatirkan akan terkontaminasi karena tip sudah steril dan walaupun tangan sudah disemprot alkohol 70% tidak menutup kemungkinan akan terkontaminasi dengan mikroba lain karena mikroba tidak terlihat oleh mata secara langsung. Memipet dilakukan secara aseptis dengan cara didekat sumber api/lampu spirtus agar tidak terkontaminasi dengan mikroba-mikroba lain. Tabung reaksi tersebut divortex tujuannya agar pengenceran homogen, setelah divortex kemudian memipet 1 ml dari tabung reaksi dimasukan ke dalam tabung reaksi pengenceran 10ˉ4 yang berisi 9 ml aquadst yang sudah steril dan 1 ml dimasukan ke dalam cawan petri steril yang dilakukan secara aseptis.

Pengenceran dilakukan sampai 10ˉ8 dan setiap sesudah pengenceran dilakukan pergantian tip dengan yang baru agar tidak mempengaruhi dalam pengenceran berikutnya dan pengenceran harus divortex. Cawan petri yang telah diisi digoyang-goyangkan agar merata, setelah itu dilakukan penunagan media pada masing-masing cawan petri. Media PCA dituangkan secukupnya karena bila terlalu sedikit maka bakteri tidak akan tumbuh dengan baik, suhu media jangan terlalu dingin karena media sudah membeku/mengental sebelum dituangkan karena akan mempengaruhi hasil akhir dan kemungkinan bakteri tumbuh tidak seperti yang diharapkan, juga jangan terlalu panas karena akan langsung membunuh bakteri sehingga hasil akhir yang diharapkan tidak akan sempurna. Masing-masing media pada cawan petri dibiarkan membeku dan posisinya dibalikan.

Setelah semua media membeku kemudian dimasukan ke dalam incubator untuk diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu ±35˚C yang merupakan suhu optimum tumbuhnya bakteri. Dilakukan juga blanko untuk sebagai pembanding, blanko hanya berisi media saja.

Masa pertumbuhan bakteri adalah cepat, sehingga bakteri mesofil aerob dapat dihitung sebagai koloni Angka Lempengan Total per ml. Berdasarkan SNI jumlah koloni yang dihitung yaitu antara 25-250 koloni. Cawan petri yang telah diinkubasi sela 24-48 jam diamati dan dihitng. Berdasarkan data yang telah diperoleh dan dihitung bahwa jumlah Angka Lempengan Total pada air keran yaitu 2,4x104 koloni/ml. Angka lempengan Total yang terdapat pada sampel air keran ini membuktikan bahwa kualitas air tersebut cukup baik, bersih dan mengandung bakteri yang tidak banyak karena jumlah Angka Lempengan Total sedikit.

Pada praktikum kedua yaitu dengan sampel air keran dan bakso yang bertujuan Menghitung Angka Lempengan Total. Sepertihalnya pada praktikum pertama maka langkah kerja untuk sampel air pada praktikum ini juga sama, hanya saja proses pengenceran sampai pengenceran 10ˉ8. Berdasarkan data yang telah diperoleh dan dihitung bahwa jumlah Angka Lempengan Total pada air keran yaitu

0,6x104 koloni/ml. Pada sampel kedua yaitu bakso sebelumya dihancurkan terlebih dahulu dengan cara diblender, hal ini dilakukan agar sampel bakso dapat homogen karena bila sampel bakso berbentuk bulat tidak dihancurkan maka tidak akan homogen saat dilarutkan pada pengencer aquadest 225 ml/10ˉ1. Sampel bakso yang telah hancur ditimbang sebanyak 25 gram. Media yang digunakan masih tetap PCA (Plate Count Agar) karena adalah tempat bakteri tumbuh dan berkembangbiak dengan baik. Sebelum kegiatan dilakukan maka meja kerja dan tangan praktikan disemprot dengan alkohol 70%. Sampel bakso yang telah ditimbang dimasukan dalam larutan pengencer 225 steril/aquades, langkah ini dilakukan didekat api agar tidak terkontaminasi dengan mikroba lain. Kemudian sampel bakso dan pengencer dalam toples tersebut dikocok 25 kali agar homogen.

Langkah selanjutnya yaitu mengencerkan pada tabung reaksi yang berisi 9 ml aquadest yang telah steril yaitu tabung 10ˉ2, memipet 1 ml dengan mikropipet dan memasukannya ke dalam tabung reaksi pengenceran 10ˉ3. Setelah itu memvortex beberapa detik agar homogen dan memipet 1 ml untuk dimasukan ke dalam tabung reaksi pengenceran 10ˉ4 dan 1 ml untuk dimasukan ke dalam cawan petri yang telah steril, setiap pergantian pengenceran maka tip diganti agar aseptis dan tidak terjadi kontaminasi. Pengenceran dilakukan hingga pengenceran 10ˉ8. Setelah semua cawan petri terisi maka dituangkan media secukupnya, posisi cawan dibalikan dan dibiarkan hingga beku/mengental menjadi agar, penuangan dilakukan secara aseptis dekat sumber api agar tidak terganggu atau terkontaminasi oleh mikroba yang tidak diharapkan. Jika media sudah menjadi agar maka langsung dimasukan dalam incubator selama 24-48 jam selama ±35˚C. Bakteri mesofil akan tumbuh karena suhu tersebut merupakan suhu optimum untuk pertumbuhan bakteri.

Masa pertumbuhan bakteri adalah cepat, sehingga bakteri mesofil aerob dapat dihitung sebagai koloni Angka Lempengan Total per ml. Berdasarkan SNI jumlah koloni yang dihitung yaitu antara 25-250 koloni. Cawan petri yang telah diinkubasi sela 24-48 jam diamati dan dihitng. Berdasarkan kedua data yang telah diperoleh dan dihitung rata-rata jumlah Angka Lempengan Total pada bakso yaitu 4,65x10 6 koloni/gram dari pengenceran 10ˉ5.

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dan berdasarkan data hasil pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa praktikum ini dilakukan untuk mengetahui jumlah Angka Lempengan Total dengan metode Plate Count. Dalam pengenceran dan penuangan harus secara aseptis juga alat dan bahan yang digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu dalam autoclav. Angka Lempengan Total Pada praktikum pertama denngan sampel air yaitu 2,4x104 koloni/ml sedangkan pada praktikum kedua yaitu Angka Lempengan Total air adalah 0,6x104 koloni/ml dan Angka Lempengan Total bakso adalah 4,65x106 koloni/ml.

DAFTAR PUSTAKA

1. SNI (Standar Nasional Indonesia) Cara Uji Cemaran Mikroba 01-2897-1992

2. M, Badhowie. 1982. Petunjuk Praktek Pengujian Mutu hasil Pertanian 2. Jakarta: DEPDIKBUD

3. Muctahdi, dedi. 1978. Mikrobiologi Hasil Pertanian 1. Jakarta: DEPDIKBUD

HIGIENE PEKERJA

Pekerja memegang peranan yang penting dalam kelancaran proses produksi karena pekerja merupakan perencana, pelaksana dan pengelola dalam suatu industri. Dalam melaksanakan tugasnya kepada pekerja dituntut suatu sikap yang positif sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan yang diharapkan. Sikap tersebut adalah kesehatan, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, hati-hati, cermat dan teliti, senang akan kebersihan serta menjaga kesehatan.Untuk menanamkan sikap tersebut diperlukan adanya pengarahan, peraturan. Senang akan kebersihan dan menjaga kesehatan merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap pekerja, karena dengan kebersihan dan kesehatan akan dihasilkan produk yang baik dan tidak membahayakan kesehatan.


SARANA KEBERSIHAN

• Adanya larangan terhadap hal-hal yang bertentangan dengan kebersihan. Misalnya: meludah dan bersin di tempat kerja, membuang sampah sembarangan dan lain sebagainya.

• Penyediaan air sesuai dengan keguanannya,

• Tempat cuci tangan (wastafel),

• Toilet

• Ruang ganti pakaian,

• Ruang makan / kantin


SARANA KESEHATAN

• Kotak P3K, berisi obat-obatan yang sifatnya untuk penanganan tahap pertama

• Poliklinik, untuk memberikan layanan kesehatan pekerja dan sekaligus melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik

• Dokter dan perawat peruasahaan , berfungsi sebagai dokter atau perawat jaga apabila sewaktu-waktu diperlukan sudah siap.


GANGGUAN TERHADAP PEKERJA

Selain dituntut sikap-sikap tersebut diatas, pekerja harus dilindungi dari bahaya / gangguan yang timbul yang dapat menyebabkan hambatan dalam proses produksi. Gangguan / bahaya yang sering timbil adalah: kebisingan, getaran mekanis akibat mesin, cuaca kerja yang panas, bau-bauan ditempat kerja terutama yang mengganggu kesehatan dan menimbulkan racun, penerangan yang kurang baik, keracunan bahan kimia dan kecelakaan selama melaksanakan pekerjaan


Perangkat Keselamatan Pekerja

Guna melindungi pekerja dari gangguan dan bahaya yang mungkin timbul dalam pelaksanaan tugas serta melindungi produk dari pencemaran oleh pekerja selain dilakukan usaha pengamanan terhadap tempat, peralatan, bahan, dan lingkungan sangat diperlukan perlengkapan pekerja yang berfungsi sebagai pelindung diri. Perlengkapan pekerja ini harus memenuhi persyaratan yaitu :

1. Enak dipakai

2. Tidak mengganggu dalam pelaksanaan pekerjaan.

3. Memberikan perlindungan efektif pada pekerja terhadap jenis bahaya.

4. Bersih

Perlengkapan pekerja ini bermacam-macam dan dapat digolongkan berdasarkan bagian tubuh yang dilindungi yaitu :

1. Kepala : pengikat rambut, penutup rambut, topi.

2. Mata : kacamata / goggles

3. Tangan dan Jari : sarung tangan

4. Muka : penutup muka

5. Kaki : sepatu

6. Alat Penapasan : respirator / masker

7. Telinga : sumbat telinga, tutup telinga

8. Tubuh : pakaian kerja


Tempat Kerja

Lingkungan produksi adalah lingkungan kerja dan lingkungan di sekitar pabrik pengolahan. Untuk mendapatkan produk yang memenuhi syarat perlu diperhatikan dalam mendirikan industri pengolahan hasil pertanian.


Perencanaan dalam lingkungan produksi meliputi:

• Penentuan lokasi bangunan

• Konstruksi bangunan

• Layout atau tata ruang (kompartementalasi)

• Suhu pembuangan (ventilasi)

Vitamin B9 (folic acid)


Vitamin B9 (folic acid)


• Folic acid and folate (the anion form) are forms of the soluble vitamin.

• These occur naturally in food and can also be taken as supplements.

• Folate gets its name from the Latin word folium (“leaf”)

• Folic acid has molecular formula C19H12N7O6 and have molar mass 441,403 g/mol

History

• Lucy Wills in 1931 led to the identification of folate as the nutrient needed to prevent anemia during pregnanacy.

• Dr. Wills demonstrated that anemia could be reserved with brewer’s yeast.

• Folate was identified as the corrective substance in brewer’s yeast in the late 1930s and was extracted from spinach leaves 1941. It was synthesized in 1946 by Yellapagrada Subbarao

Functions of Folate Acid

• Folate is necessary for the production and maintenance of new cells.

• Folate is needed to replicate DNA.

• Both adults and children need folate to make normal red blood and prevent anemia.

• Folate is veru important for all women during pregnanacy.

• Folate appears to reduce the risk of stroke

Health Risk Of Too Much Folic Acid

• The risk of toxicity from folic acid is low. The institute of medicine has established a tolerable upper intake level (UL) for folate of 1 mg for adult men and women.

• Supplemental folic acid should not exceed the UL to prevent folic acid from masking symptoms of vitamin B 12 deficiency.

• research suggest high levels of folic acid can interfere with some antimalaria treatments.

Some Current Issues And Controversies About Folate

Adequate concertations of folate, vitamin B12, or vitamin B6 may decrease the circulating level of homocysteine, an amino acid normally found in blood. There is evidence that an elevated homocysteine level is an independent risk factor for heart disease and stroke. The evidence suggests that high levels of homocysteine may damage coronary arteries or make it easier for blood clotting cells called platelets to clump together and form a clot. However, there is currently no evidence available to suggest that lowering homocysteine with vitamins will reduce your risk of heart disease.

STROKE

• Folic acid appears to reduce the risk of stroke. The reviews indicated only that in some individuals the risk of stroke appears to be reduced, but a definite recommendation regarding supplementation beyond the current recommended daily allowance has not benn established for stroke prevention.

CANCER

• The association between folate and cancer appears to be complex. It has been suggested that folate may help cancer, as it is involved in the synthetis , repair, and functioning of DNA, our genetic map, and a deficiency of flate may result in damage to DNA that may lead ti cancer. Conversely, it has been suggested that excess folate may promote tumor initation. Although diets high in folate are

MEMORY AND MENTAL AGILITY

• In a 3-year trial on 818 people over the age of 50, short-term memory, mental agility and verbal fluency were all found to be better among people who took 800 micrograms of folic acid daily-twice the current RDA-than those who took placebo. The study was reported in The Lanced on 19 January 2007.

FERTILITY

• Folate is necessary for fertility in both men and women. In men it contributes to spermatogenesis. In women, on the other hand, it contributes to oocyte maturation, implantation, placentation, in addition to the general effects of folic acid and pregnancy. Therefore, it is necessary to receivesufficient amounts throgh the diet, in order to avoid subfertility.

FOLATE IN FOODS

• Leavy vegetables such as spinach, turnip greens, lettuces, dried beans and peas, fortified cereal products, sunflowers sedds and certain other fruits and vegetables are rich sources of folate. Some breakfast cereals ( ready-to-eat and others ) are fortified with 25% to 100% of the recommended dietary allowance ( RDA ) for folic acid. A table of selected food sources of folate and folic acid can be found at the USDA National Nutrient Database for Standard Reference.

BIOGAS

Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sambah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik.


Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit.

Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil. Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi mekanis pada tempat pengolahan limbah.


KOMPOSISI BIOGAS


Biogas sebagian besar mengandung gs metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dan beberapa kandungan yang jumlahnya kecil diantaranya hydrogen sulfida (H2S) dan ammonia (NH3) serta hydrogen dan (H2), nitrogen yang kandungannya sangat kecil. Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4). Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor. Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa parameter yaitu : Menghilangkan hidrogen sulphur, kandungan air dan karbon dioksida (CO2). Hidrogen sulphur mengandung racun dan zat yang menyebabkan korosi, bila biogas mengandung senyawa ini maka akan menyebabkan gas yang berbahaya sehingga konsentrasi yang di ijinkan maksimal 5 ppm. Bila gas dibakar maka hidrogen sulphur akan lebih berbahaya karena akan membentuk senyawa baru bersama-sama oksigen, yaitu sulphur dioksida /sulphur trioksida (SO2 / SO3). senyawa ini lebih beracun. Pada saat yang sama akan membentuk Sulphur acid (H2SO3) suatu senyawa yang lebih korosif. Parameter yang kedua adalah menghilangkan kandungan karbon dioksida yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Kandungan air dalam biogas akan menurunkan titik penyalaan biogas serta dapat menimbukan korosif